Peluang lahirnya poros ketiga di pemilihan presiden (Pilpres) 2019 masih sangat kecil. Apalagi, jika Mahkamah Konstitusi (MK) menolah judicial review Presidential Threshold (PT) 20 persen syarat Capres. Ditambah saat ini belum ada figur yang sebanding dengan Jokowi maupun Prabowo.
"Hampir bisa dipastikan tidak ada figur lain yang selevel dengan Prabowo ataupun Joko Widodo. Ditambah tabiat parpol yang cenderung bermain aman dengan memilih mendukung figur yang sudah pasti menang," ujar Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC), Zaenal A Budiyono dalam keterangan tertulis kepada JawaPos.com, Minggu (24/6).
Zaenal justru memprediksi pertarungan sengit justru terjadi di level posisi calon wakil presiden (Capres), dimana hingga kini sejumlah nama terus dibahas para elite kedua kubu.
Menurut Zaenal, salah satu nama yang disinyalir memiliki peluang adalah mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo. Namanya kerap di posisi tiga besar untuk Capres, atau merujuk sejumlah survei, Gatot berada di peringkat satu kalau untuk Cawapres Jokowi.
"Meski demikian, langkah Gatot tidak mudah. Karena di internal Jokowi untuk nama-nama profesional, selain Gatot masih ada nama Moeldoko, Mahfud MD, Susi Pudjiastuti atau Sri Mulyani. Keempatnya bukan nama sembarangan, karena memiliki rekam jejak mentereng.
Moeldoko adalah mantan panglima TNI, dan sekarang ketua Kantor Staf Presiden (KSP). Mahfud MD memiliki pengalaman di birokrasi, selain akademisi. Susi dikenal sebagai menteri berprestasi, sementara Sri Mulyani terakhir meraih gelar sebagai menteri keuangan terbaik di dunia.
Sementara itu, alasan kedua, lanjut Zaenal, selain nama-nama dari internal Jokowi, koalisi parpol pendukung juga menyuguhkan nama-nama kuat. Mulai dari Muhaimin Iskandar, Rohmanurmuzy hingga Airlangga Hartarto.
Namun, bila pertimbangannya untuk mengimbangi kekuatan politik dan memperkuat elektabilitas, tentu saja Jokowi cenderung akan memilih calon dari parpol yang sudah memiliki basis.
Jika demikian, bagaimana peluang Gatot di kubu Prabowo? Zaenal menilai sulit membayangkan bakal jadinya pasangan Prabowo – Gatot, karena keduanya memiliki latar belakang yang sama, yaitu militer. Apalagi, pengalaman pilpres 2014, Prabowo yang berpasangan dengan sipil (Hatta Rajasa) justru hanya kalah tipis dari Jokowi – JK.
"Saya pikir mempertahankan momentum 2014 menjadi penting bagi Prabowo, dan dalam upaya ke sana, ia membutuhkan sosok sipil yang mumpuni,” katanya.
Lebih lanjut, Zaenal mengatakan, partner Gerindra yakni PKS sendiri sejauh ini belum secara terang mendorong Gatot. Mereka lebih fokus mendukung sembilan nama dari internal Partainya.
“Karena itu peluang Gatot sagat kecil. Apalgi di Partai Demokrat juga memiliki calon tak kalah menarik pada diri AHY (Agus Harimurti Yudhoyono, red),” pungkasnya.
(aim/
JPC)
Komentar
Posting Komentar